Bpk Pariwisata di Pesta

Kemarin saya pergi ke acara kawinan temen sekantor saya, Nina. Dari rumah jam 12, tiba di Aceh Sepakat jam setengah satu. Karena saya sendiri, mungkin agak aneh buat sebagian orang. Tapi saya sih cuek aja.


Pesta adat Aceh. Pelaminannya kuning keemasan, dan kedua pengantin berdiri di panggung, kelihatan sedang mengobrol. Saya masuk. Di sebelah kiri pagar ayu, di sebelah kanannya pagar bagus (bagus-bagus memang ! :p~~ )


Saya masuk dan duduk di daerah sebelah kiri, di belakang barisan pagar ayu. Di situ ada Intan, yang jadi penerima tamu. Dia sedang gantian jaga sama yang di luar. Makan dulu.


Setelah mengambil sedikit kue dan segelas air buah, saya kembali ke tempat duduk. Intan juga sudah mau kembali ke depan, menunaikan tugas mulia. Ya kan Tan? Hehhehe....


Celingak celinguk. Mana sih, kok muka-muka yang saya harapkan tidak muncul juga? Sms dari baba masuk, katanya minta dijemput. Bah! Cembetol aja, orang sudah di pesta juga.


Pas lagi celingak-celinguk begitu, tiba-tiba muncul seraut tampang ke-arab2an, berkumis. Alamaakkk.....!!


Ingat kan cerita saya ketika GA 187 balik ke Medan dan saya ganti pesawat ke GA 190? Waktu di GA 190 itu saya duduk di tengah, sebelahan sama bapak-bapak yang kerja di Dinas Pariwisata Provsu. Nah, itu dia! Muncul di pestanya Nina. Namanya Pak R.


Dia juga kelihatan surprise ada saya di situ. Haduh........... malasnya, begitu pikir saya. Nanti pasti saya harus basa-basi lagi sama dia. Saya lalu berdiri, mau lihat-lihat jajanan lagi. Daripada bengong dan juga menghindari dihampiri sama Bapak tadi. Soalnya dia kelihatan melirik-lirik terus ke tempat duduk saya, daripada nanti datang dia....


Saya ke barisan jajanan di sebelah kanan. Lalu ngobrol-ngobrol sama Unyak. Gak lama, si Nurul sama suaminya masuk. Nah, ada juga muka yang ‘menenangkan’ begitu pikir saya. Langsunglah kami berbincang-bincang yang tak jelas.


Tahu-tahu Pak R itu sudah nongol di depan mata. Masih dengan senyum ramahnya (yang menurut saya agak kelewatan ramah).


“Hei.... apa kabar?”

“Baik pak..” saya menyunggingkan senyum. Halaqhh...

“Ini siapanya?” katanya nunjuk ke pelaminan.

“Oh, dua-duanya teman saya...”

“Kalau saya, orang tuanya ini teman sma saya...” timpalnya lagi.


Hah??!! *Gubraks* Matilah kita.


“Sama siapa???” tanya nya lagi sambil mMatanya melihat-lihat ke kanan kiri saya. Cari siapa sih Pak?

“Sendiri saja Pak.”

“Sama! Saya juga sendiri..” sahutnya cepat sambil nyengir-nyengir lagi.


So? Kenapa rupanya? Cembetol ajalah bapak ini..! Rrrrrrrr...............

Bapak ini ramah atau kelewatan ramah ya? Sekedar kilas balik, waktu di pesawat, saya terpaksa mengeluarkan novel karena dia “terlalu semangat” mengajak ngobrol. Sampai waktu turun dari pesawat, dan ketemu lagi sama bapak R ini di bawah, saya dikenalkan dengan anak perempuannya yang jemput dia di bandara. Habis itu saya langsung cabut, cari jalan lain biar gak kepentok dia.


Udah gitu, kira2 bulan lalu, saya dan rekan kantor ketemu dia di tempat makan. Dia naik avanza baru, sama sopirnya. Waktu itu dia bilang ke teman saya kalau dia kenal saya dia pesawat. Harusnya sih fine aja, cuma jangan terlalu excited napa?


Habis ambil minuman, dia pergi ke depan. Dia nyanyi dengan diiringi band kawinan.


Komentar Nurul, “Idih, suaranya gak nyambung.”


Lalu setelah nyanyi dua lagu, dia turun dan tahu-tahu sudah ada lagi di dekat kita. Hhhh...... Saya gak ingat betul apa lagi yang dikatakannya, tapi saya asal jawab aja dengan, “Gak nyanyi lagi, pak.”

Maksudnya biar dia segera pergi dari dekat saya. Dia tertawa-tawa lagi dan pergi ke depan.

Habis itu saya yang diledekin sama teman-teman saya. Gara-gara bapak pariwisata tadi. Huh... Borjong lah! :)

.........

                            

LIBURAN AKHIR TAHUN

Tanggal 31 Des 2006. 15.10

Saya bersiap-siap turun ke bawah. Di persimpangan jalan kecil --- yang memang seharusnya hanya untuk turun, namun karena jalan naik sedang ada galian, jadi semua kendaraan naik dan turun melalui jalan turun. Saya mengikuti kijang di depan saya, yang juga mengikuti fortuner gray di depannya. Ternyata di depan fortuner ada sedan yang mau naik, dengan antrian dua mobil lagi di belakangnya. Alhasil karena ingin menghindar, atau mungkin juga karena merasa mobilnya besar, fortuner itu nekat turun ke jalan tanah yang agak rendah. Sedan melaju pelan. Fortuner pun bermaksud mundur. Tapi apa daya, ternyata mobil jadi oleng!! Ban kanan belakangnya terangkat, dan pasti membuat panik penumpang di dalamnya. Beberapa penduduk mendekat, barangkali cuma ingin tahu saja, penasaran melihat mobil sebagus dan segagah fortuner. Petugas Hotel Niagara segera datang dan langsung berdiskusi. “Cemana tadi ceritanya bang? Kok bisa nyangkut kek gini?” begitulah kira-kiraaa.... :p~~

Semua mobil yang tadinya mau naik disuruh turun lagi ke bawah. Biar bergantian dengan kami yang akan turun.

Tidak sampai 10 menit, sambil tetap penasaran kira-kira bagaimana ya cara si fortuner keluar dari jebakan yang dalam itu? ---- kami tiba di danau Toba. Ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk main jetski sepuasnya. Soalnya abang saya masih di Arab, berhaji dan memelihara brewoknya. Biasanya kalau ada abang saya, suka rebutan main (maklum armadanya cuma satu), dan saya tidak diijinkan bawa sendiri. Danau Toba yang seram dan agak-agak mistis itu memang suka buat kuduk merinding. Jadi ini benar-benar kesempatan langka, hihihihi...

Suasana di danau ramai banget. High season seperti ini memang bawa rejeki buat penduduk sekitar danau. Bebek-bebekan, skuter air (model jetski jaman jebot..), kapal feri, sampai ban pelampung, laku keras disewa pengunjung.

Meluncur di Danau Toba dengan jetski, diterpa angin lembut, air danau yang warnanya hijau gelap, benar-benar menikmati hidup namanya... Air yang tempias ke muka dan tangan ketika jetski menghantam ombak-ombak kecil.... wah...! Bisa gak membayangkan kita terlempar dari jetski di Danau Toba? Syukurlah tidak terjadi.

Tadinya waktu saya bawa jetski sendirian, saya mau nekat ke Tomok , kan cuma 10mnt kalau pake jetski --- mau sebelah-2an gitu ama kapal feri biar aman, tapi kok ya ciut juga. Mending ada teman lain yang mau ke Tomok, ini saya sendiri. Ada sih jetski hijau yang baru turun, teman abang saya. Saya lihat dari jauh, si Oom Jetski Ijo itu sibuk ber-sliding, membuat ombak. Pakaiannya lengkap, dengan helm. Semuanya warna ijo. Kerumunan anak muda di pinggir danau menonton atraksi tersebut.

Lalu jalan ke Batu Gantung. Awalnya nebak-nebak saja, pokoknya kalo lihat ada kapal feri bermuatan penumpang jalan kesana, ya diikutin aja. Air di dekat batu gantung itu tenang dan jerniii.....hh banget. Hijaunya itu luar biasa indah. Terlihat masih murni dan belum tercemar. Udaranya juga segar, dingin. Batu gantungnya saya lihat dari dekat dan seperti legendanya, pahatan batu itu memang mirip badan anjing.

Dari situ, saya putar balik lagi. Skuter-skuter berseliweran, juga speedboat. Di sisi yang lain, keadaan airnya juga sama dengan di sekitar batu gantung. Hijau, tenang, jernih. Membuat perasaan sedikit bergidik, membayangkan apa yang ada di dalam danau yang tenang itu. Hiihhh......!! Di pinggir danau, langsung berbatasan dengan daratan yang ditumbuhi pohon-pohon kecil. Ada satu yang membuat pemandangan itu terlihat sangat nature. Ada pondok kecil...!! Satu saja, terbuat dari papan-papan, atap ijuk, dan warna hitam. Gelap. Tua. Tapi bersih. Pondok itu bentuknya seperti rumah. Mungkin tempat beristirahat nelayan.

Setelah menghabiskan waktu satu jam mutar-mutar dan ngebut di danau yang tidak ada ombak itu :p~~ saya capek juga. Balik ke daratan, ganti baju, dan duduk sebentar di pinggir. Jetski dibungkus dan dinaikkan dengan troli otomatis ke atas, disimpan.

Beberapa lelaki (ada yang gendut :p)---- teman abang saya juga, mulai bersiap-siap turun ke danau untuk main jetski. Ada yang jetski nya warna oranye, ada yang merah kotak-kotak. Ternyata sore hari dipilih sebagai jam meluncur, karena lebih banyak angin dan ombak.

Saya balik ke Niagara jam 6 sore, dan ketika akan naik saya intip dulu. “Oh, fortunernya dah gak ada, berarti selamat dia.” Terus saya baca Bismillah dulu, supaya tidak kepentok sama mobil yang mau turun. Dan saya pun selamat sampai ke atas.

* * *

Menjelang detik-detik pergantian tahun. Memasuki tahun 2007.......... tik tok tik tok tik tok.......!! Teeeeeetttt..... toeeettttttt........

Selamat Tahun Baru 2007.

Semoga resolusi kita tahun ini tercapai. ^_^

mengenang TOGAP

Here's my curhatitis when my beloved dog, Togap .. pass away a year ago. :(

Medan, 19 Oktober 2005.

TOGAP-ku sayang sudah pergi... Setelah hampir seminggu terluka -- karena digigit hewan kampung besar busuk jelek buas -- akhirnya Togap ku yang mungil harus menyerah pada takdir. Ia tidak sanggup berjuang, dengan tubuhnya yang penuh luka besar. Aku tidak tau mau marah pada siapa, apakah karena drh nya yang kurang telaten menjahit lukanya, kurang pula memberi informasi ttg sakit dan cara perawatan di rumah -- bgmn memberi makan kemudian kapan dibawa kembali--- tp kemarin sore ketika aku membawa Togap k drh (sebelumnya dia kesana diantar spupuku) krn tidak mau makan dan semakin loyo, disana Togap disuntik dan dikasih makan paksa (sampe drh nya jg kena gigit dalam di jarinya).

Entah apa yg dilakukan drh nya ketika aku pergi sebentar beli obat Togap di apotik, tapi...ketika aku kembali, Togap sdh tertidur lemas. Tidak bertenaga. Pulang ke rumah, malam itu aku lihat Togap tdk bs berdiri tegak. Badannya goyang2 kemudian terjatuh pelan, berbaring. Ia sempat membuka pahanya wkt Tt Cie mo mindahin dia ke keranjangnya, pertanda ia ingin dielus (aku melihat tp tdk mengelusnya. dan sekarang aku sangat menyesalll.... bagaimana mungkin aku tega tidak memberinya kasih sayang di saat dia sakit :( ). Tak lama kemudian, ia muntah. Semua obat dan makanannya keluar.

Tadi pagi, mami telpon aku, bilang klo Togap smakin lemas. Badannya mulai meregang. Aku sudah bergetar menahan tangis, tapi aku masih berusaha. Aku telpon TG, cerita btp sedihnya aku dan aku khawatir Togap tak selamat. Kata The Godfather, aku hrs cari drh lain, dan aku segera buka buku kuning utk cari drh lain.

Tapi tak lama O2 ku berbunyi lagi, dan ketika kubaca "Rumah" firasatku sudah tak enak. "Si, Togap sudah tidak ada..." begitu kata mamiku. Kemudian telepon ditutup, dan aku segera lari ke toilet, menangis disana. Sampai saat inipun aku masih merasa drh itu yg tidak becus mengobati, apalagi kemarin sore Togap dipaksa makan. Mgkn dia eneq, namanya jg sakit dan lemas, dipaksa telan begitu.... :( Togap pun langsung dikubur di halaman depan, tanpa aku sempat pulang melihat jasadnya. Tp tak apalah, aku tahu aku tak akan sanggup klo melihat tubuh kecil itu terkubur (terutama dgn lukanya itu). Aku masih ingat ketika di tempat drh, Togap memandangku terus tanpa lepas. Dia tahu aku ada disana dan tidak akan meninggalkan dia bersama orang2 asing itu.... tapi kini Togap sudah tidak ada...

Togap.... Togap.... maaf ya klo selama ini aku suka lupa sayang2 Togap.... :( Selamat jalan ya anjingku sayang..... mudah2an disana lukamu sembuh... jadi tidak sakit lagi... bisa maen2 dan lari2 disana.....

*huaaa.......... jadi sedih lagiiiiii...........* :((

BAGASI HILANG di Lion Air

 

Kualitas maskapai penerbangan Indo memang parah. Saya mengalaminya lagi ketika terbang bersama rekan saya Kamis 23 Nov lalu.

 

Diawali dengan pemberitahuan training yang mendadak, kami jadi terburu-buru menyelesaikan semua kerjaan karena harus berangkat saat siang. Dan karena mendadak itulah, kami tidak mendapat seat Garuda -- bahkan sampai hari minggu untuk kepulangan ke Medan -- sehingga kami harus berangkat dengan dapat Lion Air.

 

Kami tiba di bandara pas jam 12, setelah saya ngebut & berhasil lewat dari razia polisi -- yang cari duit untuk makan siang (Hehee.. Untung banget bisa lolos, soalnya sim saya sedang extended). Kami sudah di-check in kan seperti biasa. Tapi karena saya dan rekan saya, Her ada bagasi, jadi kami mengantri lagi di menit-menit terakhir. Saya mendapat nomor bagasi 32-31 & 32-32 untuk Her.

 

Saya duduk di seat 18E, dan sebelah kanan saya ada ibu paruh baya. Beliau meminta saya memasangkan safety bealt nya, karena ini penerbangan pertama baginya.

 

"Ada bagasimu, dek?"

"Ada buk.."

"Nanti tolong bantu ya, sama-sama kita."

"Boleh buk, gpp.."

 

Pesawat Lion mendarat sangat mulus dan smooth (kali ini tidak ada kejadian pesawat harus berputar kembali seperti GA187 mgg lalu hehe..). Saya memang suka mencatat-catat, pesawat mana saja yang pilotnya bagus. Air Asia, Lion Air, Batavia Air, biasanya mendarat mulus (eh, pernah sih AirAsia yang saya tumpangi terguncang hebat tepat saat pesawat hampir menjejak aspal). Kalau pilot Garuda, selalu saja ngebut kalau landing (ntah apa yang dikejar, kayak sopir angkot aja..). Ya intinya hari itu kami tiba di Jakarta dengan selamat.

 

Turun dari pesawat, hujan gerimis sehingga kami harus berjalan cepat ke gedung. Si ibu mencolek saya.

"Dimana bagasinya, dek?"

"Nanti buk, ntar ambil bagasinya di dalam." Sahut saya. Bersama-sama kami masuk dan menuju papan petunjuk Pengambilan Bagasi - Keluar.

 

Pelan-pelan 'ban berjalan' (saya tidak tahu nama tepatnya) meluncurkan koper-koper dan barang bawaan lain milik penumpang. Her saya lihat sedang menjelaskan pada si Ibu tadi bagaimana mengecek yang mana bagasinya. Sementara saya memelototi satu-satu koper, mencari-cari yang mana milik saya.

 

Nah..! Itu dia. Segera saya tarik koper saya. Polo kotak-kotak ukuran sedang (sebenarnya ini punya mami saya, saya minjem doang.. hehehe). Nomer bagasi saya cocokkan dan pas. Saya berpaling pada Her, dan menanyakan kopernya.

"Koper lu mana Her?"

"Iya nih, belum keluar. Kok lama banget ya?!" Beberapa koper yang mirip-mirip miliknya dibiarkan lewat. Soalnya memang ada banyak sekali koper yang mirip. Merek POLO, ukuran sedang, warna biru tua.

"Lu tanda kan sama koper lu? Ada tandanya gitu gak..?"

"Ada sih, di koperku itu ada kayak kertas gitu kak sy, nempel, warna orens." dia mulai terlihat panik.

 

Kerumunan penumpang perlahan bubar, hanya tinggal 4-5 orang saja yang masih menunggu barang bagasi. Sampai kemudian ada sebuah koper biru Polo yang masuk terakhir, ukuran sedang, tapi berantakan. Gembung disana sini karena kepenuhan. Tapi saya yakin, itu juga bukan milik Her. Tadi kan yang mengangkat ke timbangan bagasi saya sendiri, jadi saya ingat bahwa bentuknya tidaklah seperti itu.

 

Tapi kami pun tetap mencoba mencocokkan nomor di tangan dengan stiker di kopor. 31-19. Tidak cocok. Muka Her langsung pucat, panik. Seorang petugas Lion Air yang berjaga di dekat situ menghampiri kami dan meminta stiker kami. Untuk dicocokkan dengan bagasi-bagasi di Lost and Found. Dugaan dia, kemungkinan koper telah terkirim dengan pesawat yang berangkat lebih awal. Tapi jelas tidak mungkin, karena kami saja check in nya belakangan.

 

Seorang pegawai Lion bernama Meli, mempersilahkan kami menunggu di kantor L&F. Tak lama petugas bagasi kembali dengan tangan kosong. Koper Her tidak ketemu juga, bahkan ia sudah mengecek ke bagian transit siapa tahu terbawa kesana. Sampai disini kami sepakat dengan dugaan bahwa ada penumpang yang telah salah mengambil koper yang bukan miliknya. Tapi, kenapa dia bisa lolos dari pemeriksaan di pintu keluar?! Biasanya petugas akan membandingkan stiker koper dengan yang ditempel di boarding pass.

 

Her sudah panik dan tidak tenang. Meli menyodorkan kertas rangkap 2 untuk diisi Her, pernyataan kehilangan bagasi. Apa saja barang yang ada di dalam koper, alamat serta nomor hp yang bisa dihubungi -- termasuk juga nomor hp saya. Dia hanya bisa memberikan solusi, mudah-mudahan orang yang salah ambil itu segera datang mengembalikan.

 

Dia juga mengakui bahwa sisdur Lion memang kurang profesional. Katanya,"Kita memang tidak seperti Garuda mbak. Kalau di Garuda, nomor bagasi tercatat langsung dengan boarding pass, sehingga bisa kita lacak penumpangnya. Tapi di sini beda, bagasi tidak tercatat."

"Tapi mbak, biasanya di depan kan diperiksa lagi? Masa sih, orang bisa lolos bawa koper orang?"

"Iya mbak. Cuma penumpang kan tadi rame ya, sementara petugas kami sedikit. Kami minta maaf ya mbak, tapi segera mbak kami hubungi bila ada berita terbaru."

"Mbak, saya minta tolong banget ya Mbak, tolong dibantu karena ini penting sekali buat saya." Her memelas.

"Iya mbak, pasti. Sekarang kami akan coba investigasi dulu. Apapun hasilnya, saya akan telepon mbak Her sebelum jam 9."

"Tolong diusahakan ya mbak, tolong banget. Saya butuh soalnya."

 

Kami pun berlalu dengan wajah cemas dan tidak tenang. Yang benar sajalah, kami tiba sore hari saat Jakarta sedang macet-macetnya, lalu koper hilang sementara besoknya pagi-pagi sekali kami sudah ada jadwal pelatihan. Naik taxi Gamya, kami diantar ke hotel. Sepanjang perjalanan, Her menelepon ke teman-temannya dan curhat. Sementara itu pak supir tetap ceria di tengah-tengah kemacetan. Ceritanya selalu tidak jauh-jauh dari polisi, yang katanya suka nangkapin mobil-mobil yang bandel di jalan inti.

 

Tiba di hotel jam 19.15. Setelah cek in hotel, meletakkan koper di kamar dan menukar sepatu dengan sneaker yang nyaman, saya menemani Her berbelanja baju ke Sarinah. Tidak sempat bersih-bersih muka dulu, karena takut Sarinah keburu tutup.

 

Malamnya, jam 20.45, ketika kami sedang makan malam di Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk yang bersebelahan dengan Bakmie GM, hape saya berbunyi. Dari Lion Air, dengan Meli.

 

Karena stres dan panik, Her bolak-balik menanyakan hal yang sama pada Meli, sementara Meli harus menjelaskan lagi berkali-kali, dan berkali-kali pula telepon terputus. Ternyata telepon kantornya pakai system timer untuk bertelepon, gembel amat sih….

Akhirnya saya menelepon balik ke Lion daripada terputus-putus terus dan pembicaraan jadi tidak selesai-selesai.

“Mbak Mel, bisa diulangi lagi? Jadi bagaimana statusnya?”

 

Ternyata pihak Lion telah melakukan x-ray pada koper yang tertinggal itu, dan didalamnya ada buku, dan ada serbuk. Mereka menduga mungkin telah terjadi kesalahan penempelan stiker, dan bisa saja koper 31-19 itu memang milik Her.


“Ada serbuk seperti susu begitu, Mbak.”

“Duh kayaknya teman saya gak bawa susu-susuan gitu deh Mbak.”

Tidak ada kepastian. Pihak Lion Air hanya bisa berjanji akan terus melacak keberadaan koper Her. Mereka hanya bisa menunggu hingga ada penumpang yang melapor.

"Duh Tuhan," Her bolak-balik menarik napas panjang. "Kira-kira, itu dibalikin ga sih, ya?"

"Kalau dia sadar itu bukan koper dia, ya pasti dibalikin lah Her. Untuk apa dia koper orang?"

"Iya sih, tapi masa sih dia lama banget sadarnya kalau dia salah?"

 

Malam itu Her tidur tidak tenang, pikirannya melayang ke kopernya terus. Rasanya tidak masuk akal, ada orang yang salah ambil koper tapi tidak sadar-sadar juga.

 

Besoknya, di sela-sela training, Her menelepon lagi ke Lion Air. Masih tidak ada titik terang. Saya suruh Her kasih saran ke pihak Lion, untuk menelepon satu-satu pernumpang. Tapi Lion bilang, rata-rata penumpang ambil tiket dari travel jadi mereka tidak punya datanya. Halah.....bilang aja mereka malas, apalagi teleponnya ajaib, 3menit mati. :D

 

Sambil duduk di sofa empuk di dalam toilet yang mewahnya minta ampun, Her menelepon temannya. Sepertinya temannya menyalahkan Her.

"Gua tuh gak salah. Enggak, kopernya bukan tertukar, gua bukan salah ambil, tapi koper gua yang dibawa penumpang lain."

 

Sorenya, sehabis training, kami ke Plz Semanggi, belanja baju lagi (ck ck ck...). Selain baju, juga beli make up, alat-alat mandi. Benar-benar hari pemborosan. Gara-gara kelalaian Lion, banyak biaya yang tidak terduga yang harus dikeluarkan.

 

Yang mengherankan, kalau memang koper itu tertukar atau salah ambil, kenapa belum ada yang melapor? Dan kalau memang koper itu dicuri, seharusnya tidak ada koper lebih yang sekarang teronggok di ruangan Lion.

Atau koper 31-19 itu memang milik Her? Tapi hasil x-ray nya jelas meragukan, belum lagi tidak ada kertas orens yang menurut Her menempel di koper itu. Saya tidak tahu apakah Her akan mengambil tindakan menuntut Lion Air atau masih menunggu kabar.

 

Jadi pelajaran juga sih buat kita. Next time, koper harus diberi tanda khusus entah dikasih pita, tag name, gantungan kunci, atau dipakaikan gembok pagar yang besar sekaligus biar tidak tertukar dengan yang lain.

 

Dan sampai hari ini, empat hari sudah koper itu tidak kembali. Poor Her......

 

 

FLY with GA 187 (almost crash!!)

Begitu pintu bus terbuka, rombongan penumpang berebut turun dan menuju tangga pesawat. Saya berjalan cepat menenteng ransel, ke arah tangga depan. Seorang cewek di depan saya dengan ransel “kompetitor” memotong antrian.

Setelah meletakkan ransel di luggage cabin, saya segera duduk di kuris 14F.

“Udah di pesawat, bentar lagi take off.” Saya pencet send dan sms pun terkirim.

Sebenarnya pososi di jendela bukan favorit saya, tapi karena tiket saya di-check in kan langsung oleh agen travelnya, saya tidak sempat memilih. Sebelah kiri saya berderet dua cowok, yang satu langsung membuka koran, sementara yang tepat di sebelah saya belum apa-apa sudah tertidur sambil menggenggam PDA nya.

 
Pesawat pun bergerak pelan-pelan, menunggu antrian terbang. Dari jendela, saya lihat Lion Air melaju kencang dan roda-roda itu pun terangkat sempurna. Sempat ada pikiran jelek di kepala ketika melihat Lion Air terbang. Gimana kalau terjadi gagal terbang ya? Gimana kalau jatuh ya?

 
“Flight attendant, prepare for take off position...”  begitu aba-aba dari pilot. Kecepatan pesawat pun ditambah. Saya berdoa dalam hati agar penerbangan lancar dan pesawat dapat take off dengan sempurna. Pesawat melaju kencang, dan wuzzzzz............. pesawat garuda dengan nomor penerbangan GA 187 tersebut berhasil take off.

 

Melihat rumah-rumah kota Medan menjadi begitu kecil terlihat dari atas, saya berpikiran aneh-aneh lagi. Entah kenapa, pesawat ini terasa berjalan lambat, seperti tidak mau kencang. Tapi pelan-pelan posisi pesawat semakin tinggi, tapi tetap saja saya merasa ada yang salah. Hati saya sudah was-was, masalahnya saya tidak bisa mengenyahkan pikiran buruk saya. Bisikan-bisikan konyol bergema di kepala. Jangan-jangan rusak nih, trus, gimana kalau ternyata harus mendarat darurat?, atau, duh kok gak keliatan apa-apa yah? Kok awan semua? Waduh, gimana kalau tabrakan sama Lion Air tadi? Pikiran-pikiran menyesatkan itu tidak  bisa hilang meski saya sudah berusaha menepis.

 
Damn...!! Saya berdoa lagi, lalu berusaha santai dan membuka novel, lebih baik cari kesibukan daripada berpikir yang tidak-tidak. Cowok disebelah saya sudah mulai nyenyak. Seperti kebanyakan penumpang Garuda lainnya, saya memang berangkat dalam rangka kerja.

 
Sekitar 15 menit penerbangan, ting tong. “Para penumpang kami yang terhormat, saya Kapten bla bla (saya tidak ingat namanya) dengan sangat menyesal --- melaporkan bahwa --- kita harus kembali ke bandara Polonia, karena ada masalah pada.......”

 

Alahh........!! Saya langsung lemas. Dan langsung menyalahkan diri. Masalahnya, setiap saya berpikiran aneh-aneh, hampir selalu kejadian. Ini bukan pertama kali kejadian. Setahun lalu, ketika saya berangkat naik Mandala ke Jkt, di atas pesawat saya juga berpikiran aneh-aneh. Saya bilang pada diri saya, jangan-jangan nih pesawat harus balik lagi ke Medan, habis mesinnya kok berisik amat. Ternyata kejadian kan? Mandalanya balik ke Medan, padahal itu sudah ½ jam perjalanan.

 
Back to Garuda. Pilot menginformasikan bahwa kami akan segera mendarat kembali di Polonia dalam waktu 15menit. Semua penumpang terdiam, tidak ada yang panik atau bersuara --- (taulah penumpang Garuda, jaim bok jaim...), tapi jelas sekali semua cemas. Lima belas menit terasa begitu lama. Novel saya masukkan lagi ke dalam tas. Dan saya memandang terus keluar jendela, berharap segera melihat daratan.

Lalu saya lihat pemandangan itu (bukan! bukan clark kent yang datang menyelamatkan pesawat Garuda), tapi saya melihat dari ujung sayap (tempat duduk saya pas sekali di sayap!) keluar sumthin seperti cairan atau gas. Entah itu asap atau bahan bakar. Saya sempat menduga apakah disitu kerusakannya.

 
Ketika roda-roda pesawat menjejak ke aspal, alhamdulillah... tidak terkira betapa leganya saya dan pasti juga semua penumpang. Ibu di belakang saya langsung menelepon suaminya, melaporkan kejadian, dan juga minta didoakan. Terdengar suara awak kabin meminta agar penumpang tetap duduk sampai ada pemberitahuan berikutnya. Sebuah mobil pertamina datang ke sayap kanan. Ternyata pilot memang mengambil langkah bijaksana, ia membuang bahan bakar untuk menghindari kemungkinan terjadinya ledakan besar bila pesawat harus mendarat darurat.

 
Tidak sampai lima menit, kami semua dipersilahkan turun kembali dan menunggu di ruang tunggu. Setelah menerima kartu TRANSIT, saya menuju ke meja Garuda di dekat pintu. Seorang ibu mengajukan komplein dan cs nya terlihat kewalahan menjelaskan. Ia meminta agar si ibu melapor ke customer service Garuda saja di depan.

 
Belajar dari pengalaman saya sebelumnya yang ganti pesawat karena Mandala mengalami kerusakan, saya langsung tarik ransel saya dan keluar dari ruang tunggu. Biarlah yang lain komplein di situ, saya tahu betul mereka juga tidak bisa kasih solusi yang pasti. Dan pesawat juga tidak mungkin berangkat lagi dalam waktu 1jam ke depan.

 
Di depan pintu masuk, saya berpapasan dengan dua rekan saya yang juga hendak berangkat tapi dengan jam terbang yang berbeda. Mereka bengong melihat saya terburu-buru keluar, dan saya jelaskan sambil jalan kalau pesawat kami mengalami kerusakan.

 
Ketika masuk ke ruang customer service, ada tiga bulek yang tadi satu pesawat juga dengan saya. Mereka diminta menunggu 15menit (lagi-lagi 15menit!!) untuk mendapat kepastian pesawat. Setelah ketiganya keluar, saya langsung duduk dan berpikir cepat alasan apa yang saya gunakan.

 
“Maaf Mbak, saya harus berangkat sekarang, karena jadwal training saya nanti malam. Saya minta digabung dengan teman saya, yang berangkat pakai GA 191. Bisa?” Padahal sebenarnya saya trainingnya juga besok, jadi berangkat malam sih bisa-bisa saja. Tapi gpplah bohong sedikit, daripada menunggu dan harus naik pesawat rusak itu lagi? No way.

 
“Ibu ada bagasi?”

“Ada. 1. Kotak karton gitu.”

“Kita bisa bantu ya Bu, untuk seat nya, tapi kan sekarang ini barang ibu ada masih ada di pesawat, jadi mungkin tidak bisa cepat memindahkannya.”

“Bagaimana caranya biar bisa cepat? Perlu saya ambil sendiri atau bagaimana?”

“Waduh, tidak bisa Bu. Selain petugas, tidak ada yang boleh mendekati pesawat.” Seorang petugas lelaki yang sedang makan nasi bungkus nimbrung.

 
“Begini saja Bu. Kita lihat dulu seat nya buat Ibu, nanti untuk bagasinya kita usahakan dipindahkan. Kalau ternyata tidak bisa, tidak apa-apa ya, tapi pasti sampai, cuma beda jam.”

 
“Ya sudah tidak apa-apa.” Tukas saya cepat. Daripada tidak dapat seat, begitu saya pikir.

 
“Siapa nama temannya tadi Bu?” tanyanya lagi. Eh?? Ternyata dia mau ngetest, beneran gak saya punya teman yang saya sebutkan tadi. Hehehe.... saya sebutkan nama lengkap teman saya itu, dan click! Nama itu muncul di layar, dan saya dibuatkan satu grup dengan mereka. Ia menyerahkan boarding pass kembali pada saya dengan coretan “TP 191, 16B.”

 
Saya langsung berlari ke counter check in Garuda, untuk meminta boarding pass baru. Ada antrian dan sempat stress menunggu giliran --- petugasnya lelet minta ampun! --- karena GA 191 memang sudah waktunya boarding. Tiba giliran saya, tahu-tahu si petugas bilang “Waduh, mbak, kayaknya gak bisa ini. Sudah gak ada seat.

Saya menarik napas menahan jengkel. Jelas di kertas itu ada tulisan nomor seat.

“Di cek dulu deh Mbak, saya sudah melapor ke cs tadi.”

Dia lalu menghubungi rekannya di cs dengan ht, dan mendapat jawabab kalau nama saya memang sudah booked. Di 16B.” 
(Pengen saya tonjok aja tuh orang. Bukannya dicek dulu kek, baru ngomong.)

Setelah mendapatkan boarding pass baru, saya langsung lari menuju ruang tunggu. Sempat tertahan antrian di depan pemeriksaan. Ada seorang perwira polisi yang didampingi ajudannya, dia tersenyum ke saya dan bilang, “Garudanya belum berangkat, kok.”

 
Saya tersenyum dan mengatur napas. Jujur saja saya panik dan juga berkeringat karena lari-lari. Langsung saya ambil antrian di depan pintu boarding. Dan ketika saya lihat ke kanan kiri, penumpang-penumpang yang tadi satu pesawat dengan saya memandang heran. Mereka pasti bertanya-tanya juga, kenapa saya sudah mengantri di antrian next flight? Di bus, saya ketemu dengan dua rekan saya tadi, yang juga terheran-heran karena saya satu pesawat juga dengan mereka.

 
Begitu naik pesawat, saya duduk di 16B. Di kanan saya, seorang bapak usia 50-an, yang menjadi teman mengobrol sepanjang perjalanan. Sebenarnya bukan mengobrol, tapi si Bapak yang kepala dinas salah satu intansti di medan sumut ini, memang hobi bercerita.

 
Saya sedikit lega karena telah lolos dari GA 187 yang rusak itu (Lolos? Apaan coba? Hihihi...). Tapi di tengah perjalanan, tiga kali kami mengalami guncangan hebat. Sempat khawatir, namun karena kali ini tidak ada bisikan-bisikan aneh lagi, saya tidak terlalu panik.

 
Dan alhamdulillah, akhirnya kami semua berhasil selamat sampai di tujuan. Walaupun harus diakui, trauma itu masih ada.

 

******