SARANG PENYAMUN DI KUALA LUMPUR :)
Terbang ke Kuala Lumpur bagi penduduk
Minggu lalu, medio 6-9 Juli saya bertiga dengan Irin
dan Sika, jalan-jalan ke KL. Sebenarnya bukan jalan-jalan banget,
karena masing-masing punya tujuan sendiri. Irin dan Sika mungkin ingin
jalan-jalan dan shopping, sementara saya selain tujuan shopping saya ingin
bertemu dengan Den, my li’l sista. Kira-kira seminggu sebelumnya, ada kejadian
yang membuat saya langsung ambil keputusan untuk pergi ke KL. Saya pikir,
itulah saat yang tepat saya harus bertemu dengan Den.
Banyak kejadian
menarik selama kami di KL. Mulai dari dialek yang lucu dan susah dipahami, ketinggalan
bus gara-gara Irin dan Sika lelet setengah mati (dasar!!), sampai kejadian hampir
berseteru sama preman di Kota Raya. Yang terakhir ceritanya begini, siang itu kami
sudah check out dari Hotel. Karena taxi carteran datangnya jam 4 sore sesuai
janji, maka kami putuskan untuk jalan-jalan dulu. Den mengusulkan ke tengah kota, ke Kota Raya, karena ada small things yang harus dibeli, dan menurutnya di tempat itu lebih
mudah didapat.
Turun dari taxi, kami menyeberang ke
Kota Raya. Rencananya mau lunch dulu,
karena sudah kelaparan. Food Court ada di lt.v jadi kami naik lift dari
samping. Kota Raya itu seperti Pasar Sentral lah kalau di Medan, feeling
saya sudah mengatakan ini tempat sarang preman dan banyak copet. Saya
bilang pada Den, kayaknya saya salah kostum nih datang ke KR, soalnya banyak
mata-mata liar begitu.
Ketika pintu lift terbuka, dan kami
keluar, kami sudah dihadang oleh dua lelaki pendek. Saya waktu itu jalan di
depan, melihat-lihat situasi. Saya lihat, kok tempatnya ini crowded banget, wajah kok wajah-wajah
penghuni Tanjung Gusta ya…. (kekekekeke..).
“Eh….. apa ini??” Saya
langsung menoleh kaget. Saya lihat Irin sedang menarik Sika. Salah satu lelaki
pendek tadi ternyata mencoba berbuat yang tidak-tidak pada Sika, dan Irin
langsung menjerit karena panik. Sementara Den agak shock juga. Jantung saya kontan berdebar-debar. Ini gak beres nih, pikir
saya.
Kami jalan ke dalam dengan was-was. Rasanya
seperti masuk ke sarang penyamun, karena berpuluh-puluh pasang mata memandang penuh
nafsu. Brengsek abis dah!! Rasa lapar yang tadi terasa hilang seketika. Diganti
jadi rasa panik, tidak nyaman, takut, marah. *Anger Mode*
Saya rasanya mau marah. Sempat saya
dongkol ke Den karena telah mengajak kami ke tempat seperti itu (maaf ya den sayang… :) ). Masalahnya kami merasa sama sekali tidak aman, dan saya juga tidak mau ada
masalah di negeri orang.
Saya bilang ke Irin, “Jangan
sampai kita masuk penjara di sini ya Rin, gara-gara berkelahi sama preman. Kupukulkan
juga preman bodat itu.”
Tidak sampai
Si Pendek datang mendekati saya. Tangannya
memegang gelas berisi minuman. Dia berbicara sesuatu pada saya, tapi saya tidak
mendengar. Tercium bau minuman keras ketika dia berbicara. Saya angkat tangan
kanan saya menyuruh dia pergi. Dia sempat mengangkat gelasnya. Sejurus saya
mengira dia akan menyiram saya dengan gelasnya, dan saya sudah pasrah dan nekat.
Okelah, kalau harus berantem disini juga,
ayoklah. Gw ladenin. Semalam di penjara Malaysia, apa boleh buat. Asalkan dia gak bawa senjata tajam aja di balik
jeans nya itu. Kalau sampai iya, bukan cuma belanjaan Vincci aja yang gak
kembali ke
Untung kemudian lift
terbuka, dan kami langsung masuk. Ia terlihat ragu, apakah akan ikut masuk atau
tidak. Tapi cepat-cepat saya pencet “close” agar kami lebih tenang di dalam
lift. Bayangkan! Satpam saja tidak ada disitu. Betul-betul kayak sarang preman di
lt.v itu.
Kami berlalu naik taxi
ke BB Plaza dengan wajah ditekuk. Masih marah dan tersinggung dengan kejadian
tadi. Tidak disangka-sangka akan ada kejadian begitu, di saat kami sudah harus
pulang. Den tidak banyak bicara, ia merasa sangat bersalah karena telah
mengajak kami kesana. Tidak masalah sebenarnya, karena Den juga tidak menduga
kalau akan ada kejadian seperti tadi. Tapi intinya, yang kami butuhkan saat itu
hanyalah tempat dingin, makanan dan minuman segar agar bisa cooling down.
Yeah, setelah makan dan minum serta menghabiskan ringgit yang tersisa untuk beli-beli barang gak jelas, akhirnya rasa dongkol itu mereda juga.
Yeah…………
Finally, kami semua selamat juga sampai di Medan. Capek, ngantuk….
Next time kalau ke KL
lagi untuk kesekian kalinya, untuk para cewek mungkin sebaiknya pikir2 dulu seribu kali
kalau mau main ke Kota Raya. He … he …

minta maap...dah salah lokasi...sebenarnya ga salah sih,cumen salah hari aja. tempat itu sepi kalo hari biasa,berhub waktu itu minggu...rame lah pekerja2 asing termasuk dari negara kita...heheheh
Posted by: Deniya | July 14, 2006 10:16 AM
salah orang tuh preman. Dia gk tau kk kita yang satu ini mantan preman siantar... hehehehe...
Lain kali kl jalan ke kota raya, tunjukin aja tatonya mba. Biar dia tau yg mana kawan yg mana lawan. :p
Posted by: Intan | July 17, 2006 06:47 PM
kekekekee... iya jg ya, jgn2 dia kawan aq wkt masih jaga pasar di pajak horas!!
Posted by: Zizy | July 19, 2006 02:38 AM
Nah.... next time jabanin aja. Biar rasa dia. Keluarkan jurus2 maut itu. Kekekekekeek
Posted by: Widi | July 21, 2006 04:09 AM
ha.a.a...natar kalau mo jln2 ke KL lg, ajakin kita donk, ntar biar kita ubah tuh"preman bodat" jadi preman BOdat Penyek"..ha.a... itung2 kanlagi susah cari "ayam Penyek" disononya....cam mana..?? cocok kam rasa...??
Posted by: DjephasaR | July 26, 2006 08:41 PM
ee-ehh.... gitu pulak ya...
apa kabar lae? udah lancar kan berbahasa indonesia? :)
Posted by: Zizy | July 31, 2006 04:20 AM