« FLY with GA 187 (almost crash!!) | Main | mengenang TOGAP »

BAGASI HILANG di Lion Air

 

Kualitas maskapai penerbangan Indo memang parah. Saya mengalaminya lagi ketika terbang bersama rekan saya Kamis 23 Nov lalu.

 

Diawali dengan pemberitahuan training yang mendadak, kami jadi terburu-buru menyelesaikan semua kerjaan karena harus berangkat saat siang. Dan karena mendadak itulah, kami tidak mendapat seat Garuda -- bahkan sampai hari minggu untuk kepulangan ke Medan -- sehingga kami harus berangkat dengan dapat Lion Air.

 

Kami tiba di bandara pas jam 12, setelah saya ngebut & berhasil lewat dari razia polisi -- yang cari duit untuk makan siang (Hehee.. Untung banget bisa lolos, soalnya sim saya sedang extended). Kami sudah di-check in kan seperti biasa. Tapi karena saya dan rekan saya, Her ada bagasi, jadi kami mengantri lagi di menit-menit terakhir. Saya mendapat nomor bagasi 32-31 & 32-32 untuk Her.

 

Saya duduk di seat 18E, dan sebelah kanan saya ada ibu paruh baya. Beliau meminta saya memasangkan safety bealt nya, karena ini penerbangan pertama baginya.

 

"Ada bagasimu, dek?"

"Ada buk.."

"Nanti tolong bantu ya, sama-sama kita."

"Boleh buk, gpp.."

 

Pesawat Lion mendarat sangat mulus dan smooth (kali ini tidak ada kejadian pesawat harus berputar kembali seperti GA187 mgg lalu hehe..). Saya memang suka mencatat-catat, pesawat mana saja yang pilotnya bagus. Air Asia, Lion Air, Batavia Air, biasanya mendarat mulus (eh, pernah sih AirAsia yang saya tumpangi terguncang hebat tepat saat pesawat hampir menjejak aspal). Kalau pilot Garuda, selalu saja ngebut kalau landing (ntah apa yang dikejar, kayak sopir angkot aja..). Ya intinya hari itu kami tiba di Jakarta dengan selamat.

 

Turun dari pesawat, hujan gerimis sehingga kami harus berjalan cepat ke gedung. Si ibu mencolek saya.

"Dimana bagasinya, dek?"

"Nanti buk, ntar ambil bagasinya di dalam." Sahut saya. Bersama-sama kami masuk dan menuju papan petunjuk Pengambilan Bagasi - Keluar.

 

Pelan-pelan 'ban berjalan' (saya tidak tahu nama tepatnya) meluncurkan koper-koper dan barang bawaan lain milik penumpang. Her saya lihat sedang menjelaskan pada si Ibu tadi bagaimana mengecek yang mana bagasinya. Sementara saya memelototi satu-satu koper, mencari-cari yang mana milik saya.

 

Nah..! Itu dia. Segera saya tarik koper saya. Polo kotak-kotak ukuran sedang (sebenarnya ini punya mami saya, saya minjem doang.. hehehe). Nomer bagasi saya cocokkan dan pas. Saya berpaling pada Her, dan menanyakan kopernya.

"Koper lu mana Her?"

"Iya nih, belum keluar. Kok lama banget ya?!" Beberapa koper yang mirip-mirip miliknya dibiarkan lewat. Soalnya memang ada banyak sekali koper yang mirip. Merek POLO, ukuran sedang, warna biru tua.

"Lu tanda kan sama koper lu? Ada tandanya gitu gak..?"

"Ada sih, di koperku itu ada kayak kertas gitu kak sy, nempel, warna orens." dia mulai terlihat panik.

 

Kerumunan penumpang perlahan bubar, hanya tinggal 4-5 orang saja yang masih menunggu barang bagasi. Sampai kemudian ada sebuah koper biru Polo yang masuk terakhir, ukuran sedang, tapi berantakan. Gembung disana sini karena kepenuhan. Tapi saya yakin, itu juga bukan milik Her. Tadi kan yang mengangkat ke timbangan bagasi saya sendiri, jadi saya ingat bahwa bentuknya tidaklah seperti itu.

 

Tapi kami pun tetap mencoba mencocokkan nomor di tangan dengan stiker di kopor. 31-19. Tidak cocok. Muka Her langsung pucat, panik. Seorang petugas Lion Air yang berjaga di dekat situ menghampiri kami dan meminta stiker kami. Untuk dicocokkan dengan bagasi-bagasi di Lost and Found. Dugaan dia, kemungkinan koper telah terkirim dengan pesawat yang berangkat lebih awal. Tapi jelas tidak mungkin, karena kami saja check in nya belakangan.

 

Seorang pegawai Lion bernama Meli, mempersilahkan kami menunggu di kantor L&F. Tak lama petugas bagasi kembali dengan tangan kosong. Koper Her tidak ketemu juga, bahkan ia sudah mengecek ke bagian transit siapa tahu terbawa kesana. Sampai disini kami sepakat dengan dugaan bahwa ada penumpang yang telah salah mengambil koper yang bukan miliknya. Tapi, kenapa dia bisa lolos dari pemeriksaan di pintu keluar?! Biasanya petugas akan membandingkan stiker koper dengan yang ditempel di boarding pass.

 

Her sudah panik dan tidak tenang. Meli menyodorkan kertas rangkap 2 untuk diisi Her, pernyataan kehilangan bagasi. Apa saja barang yang ada di dalam koper, alamat serta nomor hp yang bisa dihubungi -- termasuk juga nomor hp saya. Dia hanya bisa memberikan solusi, mudah-mudahan orang yang salah ambil itu segera datang mengembalikan.

 

Dia juga mengakui bahwa sisdur Lion memang kurang profesional. Katanya,"Kita memang tidak seperti Garuda mbak. Kalau di Garuda, nomor bagasi tercatat langsung dengan boarding pass, sehingga bisa kita lacak penumpangnya. Tapi di sini beda, bagasi tidak tercatat."

"Tapi mbak, biasanya di depan kan diperiksa lagi? Masa sih, orang bisa lolos bawa koper orang?"

"Iya mbak. Cuma penumpang kan tadi rame ya, sementara petugas kami sedikit. Kami minta maaf ya mbak, tapi segera mbak kami hubungi bila ada berita terbaru."

"Mbak, saya minta tolong banget ya Mbak, tolong dibantu karena ini penting sekali buat saya." Her memelas.

"Iya mbak, pasti. Sekarang kami akan coba investigasi dulu. Apapun hasilnya, saya akan telepon mbak Her sebelum jam 9."

"Tolong diusahakan ya mbak, tolong banget. Saya butuh soalnya."

 

Kami pun berlalu dengan wajah cemas dan tidak tenang. Yang benar sajalah, kami tiba sore hari saat Jakarta sedang macet-macetnya, lalu koper hilang sementara besoknya pagi-pagi sekali kami sudah ada jadwal pelatihan. Naik taxi Gamya, kami diantar ke hotel. Sepanjang perjalanan, Her menelepon ke teman-temannya dan curhat. Sementara itu pak supir tetap ceria di tengah-tengah kemacetan. Ceritanya selalu tidak jauh-jauh dari polisi, yang katanya suka nangkapin mobil-mobil yang bandel di jalan inti.

 

Tiba di hotel jam 19.15. Setelah cek in hotel, meletakkan koper di kamar dan menukar sepatu dengan sneaker yang nyaman, saya menemani Her berbelanja baju ke Sarinah. Tidak sempat bersih-bersih muka dulu, karena takut Sarinah keburu tutup.

 

Malamnya, jam 20.45, ketika kami sedang makan malam di Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk yang bersebelahan dengan Bakmie GM, hape saya berbunyi. Dari Lion Air, dengan Meli.

 

Karena stres dan panik, Her bolak-balik menanyakan hal yang sama pada Meli, sementara Meli harus menjelaskan lagi berkali-kali, dan berkali-kali pula telepon terputus. Ternyata telepon kantornya pakai system timer untuk bertelepon, gembel amat sih….

Akhirnya saya menelepon balik ke Lion daripada terputus-putus terus dan pembicaraan jadi tidak selesai-selesai.

“Mbak Mel, bisa diulangi lagi? Jadi bagaimana statusnya?”

 

Ternyata pihak Lion telah melakukan x-ray pada koper yang tertinggal itu, dan didalamnya ada buku, dan ada serbuk. Mereka menduga mungkin telah terjadi kesalahan penempelan stiker, dan bisa saja koper 31-19 itu memang milik Her.


“Ada serbuk seperti susu begitu, Mbak.”

“Duh kayaknya teman saya gak bawa susu-susuan gitu deh Mbak.”

Tidak ada kepastian. Pihak Lion Air hanya bisa berjanji akan terus melacak keberadaan koper Her. Mereka hanya bisa menunggu hingga ada penumpang yang melapor.

"Duh Tuhan," Her bolak-balik menarik napas panjang. "Kira-kira, itu dibalikin ga sih, ya?"

"Kalau dia sadar itu bukan koper dia, ya pasti dibalikin lah Her. Untuk apa dia koper orang?"

"Iya sih, tapi masa sih dia lama banget sadarnya kalau dia salah?"

 

Malam itu Her tidur tidak tenang, pikirannya melayang ke kopernya terus. Rasanya tidak masuk akal, ada orang yang salah ambil koper tapi tidak sadar-sadar juga.

 

Besoknya, di sela-sela training, Her menelepon lagi ke Lion Air. Masih tidak ada titik terang. Saya suruh Her kasih saran ke pihak Lion, untuk menelepon satu-satu pernumpang. Tapi Lion bilang, rata-rata penumpang ambil tiket dari travel jadi mereka tidak punya datanya. Halah.....bilang aja mereka malas, apalagi teleponnya ajaib, 3menit mati. :D

 

Sambil duduk di sofa empuk di dalam toilet yang mewahnya minta ampun, Her menelepon temannya. Sepertinya temannya menyalahkan Her.

"Gua tuh gak salah. Enggak, kopernya bukan tertukar, gua bukan salah ambil, tapi koper gua yang dibawa penumpang lain."

 

Sorenya, sehabis training, kami ke Plz Semanggi, belanja baju lagi (ck ck ck...). Selain baju, juga beli make up, alat-alat mandi. Benar-benar hari pemborosan. Gara-gara kelalaian Lion, banyak biaya yang tidak terduga yang harus dikeluarkan.

 

Yang mengherankan, kalau memang koper itu tertukar atau salah ambil, kenapa belum ada yang melapor? Dan kalau memang koper itu dicuri, seharusnya tidak ada koper lebih yang sekarang teronggok di ruangan Lion.

Atau koper 31-19 itu memang milik Her? Tapi hasil x-ray nya jelas meragukan, belum lagi tidak ada kertas orens yang menurut Her menempel di koper itu. Saya tidak tahu apakah Her akan mengambil tindakan menuntut Lion Air atau masih menunggu kabar.

 

Jadi pelajaran juga sih buat kita. Next time, koper harus diberi tanda khusus entah dikasih pita, tag name, gantungan kunci, atau dipakaikan gembok pagar yang besar sekaligus biar tidak tertukar dengan yang lain.

 

Dan sampai hari ini, empat hari sudah koper itu tidak kembali. Poor Her......

 

 

Comments

addouuhh, naseeb nya...
tuntut ajalah, setidaknya refund dana yg keluar utk mengganti beli baju di sarinah dan semanggi itu, hehehe

oh ya, kenapa gag belanja di Sogo ato the Mears aja, kan bakal di ganti, hahahah


uam

klo yg deket dr hotel sarinah.
trs yg deket dr t4 training pl.semanggi.
klo jkt kyk medan, kemana-mana cuma 30mnt, seluruh jkt pasti sudah kita jelajah he he he....

Akhirnya koper itu dikembalikan juga, seminggu setelah berada di tangan yg salah. Org itu tinggal di bekasi, trus krn sibuk (alasannya), dia kembalikan ke Lion br hari Jumat berikutnya, dan diterbangkan ke Medan pada hari Sabtu pagi.
Dasar..!!

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .