« Birthday Wishes | Main | BAGASI HILANG di Lion Air »

FLY with GA 187 (almost crash!!)

Begitu pintu bus terbuka, rombongan penumpang berebut turun dan menuju tangga pesawat. Saya berjalan cepat menenteng ransel, ke arah tangga depan. Seorang cewek di depan saya dengan ransel “kompetitor” memotong antrian.

Setelah meletakkan ransel di luggage cabin, saya segera duduk di kuris 14F.

“Udah di pesawat, bentar lagi take off.” Saya pencet send dan sms pun terkirim.

Sebenarnya pososi di jendela bukan favorit saya, tapi karena tiket saya di-check in kan langsung oleh agen travelnya, saya tidak sempat memilih. Sebelah kiri saya berderet dua cowok, yang satu langsung membuka koran, sementara yang tepat di sebelah saya belum apa-apa sudah tertidur sambil menggenggam PDA nya.

 
Pesawat pun bergerak pelan-pelan, menunggu antrian terbang. Dari jendela, saya lihat Lion Air melaju kencang dan roda-roda itu pun terangkat sempurna. Sempat ada pikiran jelek di kepala ketika melihat Lion Air terbang. Gimana kalau terjadi gagal terbang ya? Gimana kalau jatuh ya?

 
“Flight attendant, prepare for take off position...”  begitu aba-aba dari pilot. Kecepatan pesawat pun ditambah. Saya berdoa dalam hati agar penerbangan lancar dan pesawat dapat take off dengan sempurna. Pesawat melaju kencang, dan wuzzzzz............. pesawat garuda dengan nomor penerbangan GA 187 tersebut berhasil take off.

 

Melihat rumah-rumah kota Medan menjadi begitu kecil terlihat dari atas, saya berpikiran aneh-aneh lagi. Entah kenapa, pesawat ini terasa berjalan lambat, seperti tidak mau kencang. Tapi pelan-pelan posisi pesawat semakin tinggi, tapi tetap saja saya merasa ada yang salah. Hati saya sudah was-was, masalahnya saya tidak bisa mengenyahkan pikiran buruk saya. Bisikan-bisikan konyol bergema di kepala. Jangan-jangan rusak nih, trus, gimana kalau ternyata harus mendarat darurat?, atau, duh kok gak keliatan apa-apa yah? Kok awan semua? Waduh, gimana kalau tabrakan sama Lion Air tadi? Pikiran-pikiran menyesatkan itu tidak  bisa hilang meski saya sudah berusaha menepis.

 
Damn...!! Saya berdoa lagi, lalu berusaha santai dan membuka novel, lebih baik cari kesibukan daripada berpikir yang tidak-tidak. Cowok disebelah saya sudah mulai nyenyak. Seperti kebanyakan penumpang Garuda lainnya, saya memang berangkat dalam rangka kerja.

 
Sekitar 15 menit penerbangan, ting tong. “Para penumpang kami yang terhormat, saya Kapten bla bla (saya tidak ingat namanya) dengan sangat menyesal --- melaporkan bahwa --- kita harus kembali ke bandara Polonia, karena ada masalah pada.......”

 

Alahh........!! Saya langsung lemas. Dan langsung menyalahkan diri. Masalahnya, setiap saya berpikiran aneh-aneh, hampir selalu kejadian. Ini bukan pertama kali kejadian. Setahun lalu, ketika saya berangkat naik Mandala ke Jkt, di atas pesawat saya juga berpikiran aneh-aneh. Saya bilang pada diri saya, jangan-jangan nih pesawat harus balik lagi ke Medan, habis mesinnya kok berisik amat. Ternyata kejadian kan? Mandalanya balik ke Medan, padahal itu sudah ½ jam perjalanan.

 
Back to Garuda. Pilot menginformasikan bahwa kami akan segera mendarat kembali di Polonia dalam waktu 15menit. Semua penumpang terdiam, tidak ada yang panik atau bersuara --- (taulah penumpang Garuda, jaim bok jaim...), tapi jelas sekali semua cemas. Lima belas menit terasa begitu lama. Novel saya masukkan lagi ke dalam tas. Dan saya memandang terus keluar jendela, berharap segera melihat daratan.

Lalu saya lihat pemandangan itu (bukan! bukan clark kent yang datang menyelamatkan pesawat Garuda), tapi saya melihat dari ujung sayap (tempat duduk saya pas sekali di sayap!) keluar sumthin seperti cairan atau gas. Entah itu asap atau bahan bakar. Saya sempat menduga apakah disitu kerusakannya.

 
Ketika roda-roda pesawat menjejak ke aspal, alhamdulillah... tidak terkira betapa leganya saya dan pasti juga semua penumpang. Ibu di belakang saya langsung menelepon suaminya, melaporkan kejadian, dan juga minta didoakan. Terdengar suara awak kabin meminta agar penumpang tetap duduk sampai ada pemberitahuan berikutnya. Sebuah mobil pertamina datang ke sayap kanan. Ternyata pilot memang mengambil langkah bijaksana, ia membuang bahan bakar untuk menghindari kemungkinan terjadinya ledakan besar bila pesawat harus mendarat darurat.

 
Tidak sampai lima menit, kami semua dipersilahkan turun kembali dan menunggu di ruang tunggu. Setelah menerima kartu TRANSIT, saya menuju ke meja Garuda di dekat pintu. Seorang ibu mengajukan komplein dan cs nya terlihat kewalahan menjelaskan. Ia meminta agar si ibu melapor ke customer service Garuda saja di depan.

 
Belajar dari pengalaman saya sebelumnya yang ganti pesawat karena Mandala mengalami kerusakan, saya langsung tarik ransel saya dan keluar dari ruang tunggu. Biarlah yang lain komplein di situ, saya tahu betul mereka juga tidak bisa kasih solusi yang pasti. Dan pesawat juga tidak mungkin berangkat lagi dalam waktu 1jam ke depan.

 
Di depan pintu masuk, saya berpapasan dengan dua rekan saya yang juga hendak berangkat tapi dengan jam terbang yang berbeda. Mereka bengong melihat saya terburu-buru keluar, dan saya jelaskan sambil jalan kalau pesawat kami mengalami kerusakan.

 
Ketika masuk ke ruang customer service, ada tiga bulek yang tadi satu pesawat juga dengan saya. Mereka diminta menunggu 15menit (lagi-lagi 15menit!!) untuk mendapat kepastian pesawat. Setelah ketiganya keluar, saya langsung duduk dan berpikir cepat alasan apa yang saya gunakan.

 
“Maaf Mbak, saya harus berangkat sekarang, karena jadwal training saya nanti malam. Saya minta digabung dengan teman saya, yang berangkat pakai GA 191. Bisa?” Padahal sebenarnya saya trainingnya juga besok, jadi berangkat malam sih bisa-bisa saja. Tapi gpplah bohong sedikit, daripada menunggu dan harus naik pesawat rusak itu lagi? No way.

 
“Ibu ada bagasi?”

“Ada. 1. Kotak karton gitu.”

“Kita bisa bantu ya Bu, untuk seat nya, tapi kan sekarang ini barang ibu ada masih ada di pesawat, jadi mungkin tidak bisa cepat memindahkannya.”

“Bagaimana caranya biar bisa cepat? Perlu saya ambil sendiri atau bagaimana?”

“Waduh, tidak bisa Bu. Selain petugas, tidak ada yang boleh mendekati pesawat.” Seorang petugas lelaki yang sedang makan nasi bungkus nimbrung.

 
“Begini saja Bu. Kita lihat dulu seat nya buat Ibu, nanti untuk bagasinya kita usahakan dipindahkan. Kalau ternyata tidak bisa, tidak apa-apa ya, tapi pasti sampai, cuma beda jam.”

 
“Ya sudah tidak apa-apa.” Tukas saya cepat. Daripada tidak dapat seat, begitu saya pikir.

 
“Siapa nama temannya tadi Bu?” tanyanya lagi. Eh?? Ternyata dia mau ngetest, beneran gak saya punya teman yang saya sebutkan tadi. Hehehe.... saya sebutkan nama lengkap teman saya itu, dan click! Nama itu muncul di layar, dan saya dibuatkan satu grup dengan mereka. Ia menyerahkan boarding pass kembali pada saya dengan coretan “TP 191, 16B.”

 
Saya langsung berlari ke counter check in Garuda, untuk meminta boarding pass baru. Ada antrian dan sempat stress menunggu giliran --- petugasnya lelet minta ampun! --- karena GA 191 memang sudah waktunya boarding. Tiba giliran saya, tahu-tahu si petugas bilang “Waduh, mbak, kayaknya gak bisa ini. Sudah gak ada seat.

Saya menarik napas menahan jengkel. Jelas di kertas itu ada tulisan nomor seat.

“Di cek dulu deh Mbak, saya sudah melapor ke cs tadi.”

Dia lalu menghubungi rekannya di cs dengan ht, dan mendapat jawabab kalau nama saya memang sudah booked. Di 16B.” 
(Pengen saya tonjok aja tuh orang. Bukannya dicek dulu kek, baru ngomong.)

Setelah mendapatkan boarding pass baru, saya langsung lari menuju ruang tunggu. Sempat tertahan antrian di depan pemeriksaan. Ada seorang perwira polisi yang didampingi ajudannya, dia tersenyum ke saya dan bilang, “Garudanya belum berangkat, kok.”

 
Saya tersenyum dan mengatur napas. Jujur saja saya panik dan juga berkeringat karena lari-lari. Langsung saya ambil antrian di depan pintu boarding. Dan ketika saya lihat ke kanan kiri, penumpang-penumpang yang tadi satu pesawat dengan saya memandang heran. Mereka pasti bertanya-tanya juga, kenapa saya sudah mengantri di antrian next flight? Di bus, saya ketemu dengan dua rekan saya tadi, yang juga terheran-heran karena saya satu pesawat juga dengan mereka.

 
Begitu naik pesawat, saya duduk di 16B. Di kanan saya, seorang bapak usia 50-an, yang menjadi teman mengobrol sepanjang perjalanan. Sebenarnya bukan mengobrol, tapi si Bapak yang kepala dinas salah satu intansti di medan sumut ini, memang hobi bercerita.

 
Saya sedikit lega karena telah lolos dari GA 187 yang rusak itu (Lolos? Apaan coba? Hihihi...). Tapi di tengah perjalanan, tiga kali kami mengalami guncangan hebat. Sempat khawatir, namun karena kali ini tidak ada bisikan-bisikan aneh lagi, saya tidak terlalu panik.

 
Dan alhamdulillah, akhirnya kami semua berhasil selamat sampai di tujuan. Walaupun harus diakui, trauma itu masih ada.

 

******

 

 

Comments

Dear Zy,

That's really nice story

en sumpah, aku juga jd jantungan. terus terang aku juga g suka lagi ama yang namanya pesawat sejak kejadian garuda 1997 dan mandala kmrn. brrr...kan jadi jorok pikiran kita.

terakhir aku terbang bulan augustus kemrn, menurut aku saat yang paling indah di pesawat itu sewaktu pesawat menjejakkan roda-rodanya di daratan tujuan. suara2 bising jadi musik dan kecepatannya bagaikan nyiur angin pantai yang sepoi2.

ahhh...terbang, g seindah superman dan spiderman.

good luck and success

Wassalam

lumayan kak sisi dapat berangkat hari itu juga ,aku juga punya pengalaman nga enak ama garuda ..,pas kemaren nemenin kakakku mau ke kl menjaga nyokap yang sedang operasi di sana ,karena semua pada urgent n mendadak nekat aja langsung ke loket garuda di airport n langsung nanya ada nga tiket ke kl besok untuk 2 orang ,langsung di jawab ama penjaga "ADA"( terkejut juga sech karena selama ini nga pernah beli tiket langsung ke loketnya selalu via travel ) ,ku tanya lagi berapa harga tiketnya dijawabnya lebih kurang 1,3jt pp/orang( belum termasuk airport tax),mikir mikir kok agak murah juga di garuda ya...( sebelumnya dah tanya2 jga ama counter lain klo nga lebih mahal tdk ada seat, ato kalo ada via penang ya..nga mungkin karena urgent td ) akhirnya ku iyakan ,oke ambil dua , si penjaga minta ktp ama passport ( kebetulan aku nga bw passport hanya ktp doang, tpi kakakku bawa karena emang baru siap dari imigrasi siang tdi sekali lagi semua karena mendadak )menunggu proses booking tiket aku ngobrol ama abangku dgan posisi masih berdiri didepan loket,5 mnit ,10 mnit kutunggu kok nga ada aksi dari penjaga tiket(sibuk meliat liat layar kompnya ) ,setelah 15 menit akhirnya kutanya : Mbak tiketnya mana ? karena banyak yang maw diurusin lagi sepulang dari sini.Tau jawabannya..:Iyah..... Mas jadi berangkat ?..mendengar jawabannya seperti itu langsung dah keluar medanku..ngapaen aku berdiri dari td disini kalo nga maw berangkat ,trus aku kan dah ngasih ktp ama pasport ,sebagai bukti keseriusan aku maw beli tiket , masih dengan nyantai si penjaga loket bilang ke aku ,mas bisa beli tiketnya tpi harganya dah naik jadi 1,8jt pp/orang, mendengar kayak langsung ntah apa apa kubilang ama penjaganya ,kukeluarkan duit kontanku (lebih kurang 10jt maklum baru dari bank juga untuk persiapan berangkat besok ) dan kubilang ama penjaganya aku mampu beli tiket garuda ini , tpi jangan seenaknya menaikan harga sesuka hati, padahal itu cewek lumayan cakep tpi dah nga peduli aku ,kuminta balik passport kakakku ama ktp ku ,si penjaga masih nyantai aja dan masih ngasih komentar saya kira mas sekedar nanya2 n bilang nga ada bilang maw beli tiket padahal diawal tdi aku dah oke kan dan dianya dah minta ktp ama passportku sebagai tanda keseriusan aku membeli tiket,Pokoknya emosi dan ntah apala kata yg cocok untuk ungkapan perasaanku hari itu ,mana nyokap lagi operasi di KL ( maklum kak sisi kita kan kerja di pelayanan klo dilayanin dengan sangat buruk langsung spanning aja heheeh ).Sampe sekarang aku mikir kok bisa ya..dalam jangka 15 menit itu tiket berubah naik sekitar 500rb..padahal katanya layanan di situ on line….wadoohhhhhhhhhhh garuda…. Garuda…..( akhirnya menggunakan jasa travel juga ,naek MAS n tiketnya agak mahal dikit laa tpi nga sampe ngotot2an harganya sekitar 1,375 jt pp/perorang ).

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .